Home / Investment / Bisnis / Kemenpar Mulai Sosialisasi Indeks Pariwisata Indonesia 2017

Kemenpar Mulai Sosialisasi Indeks Pariwisata Indonesia 2017

MEDAN – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Deputi bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata berkoordinasi dengan Badan Litbang Kompas menggelar workshop sosialisasi Indeks Pariwisata Indonesia di Hotel Hermes Palace, Medan, Kamis (2/3/2017). Dalam sosialisasi ini juga menghadirkan 10 Bappeda Provinsi, 10 Dinas Pariwisata Provinsi.
“Tujuan acara saat ini untuk memastikan dimensi attractiveness, competitiveness, sustainability,  localities (sense of place, point of difference) kepariwisataan Indonesia dapat ditingkatkan, nilai tambah apa yang harus diperhatikan, harus ditingkatkan agar dapat bersaing dan sejajar dengan negara lain sehingga menjadi acuan pemerintah daerah dalam memperbaiki dan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan pariwisata di daerah,” ujar Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Frans Teguh.
Frans menjelaskan, sosialisasi indeks pariwisata merupakan lanjutan dari Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) 2016, dengan mengacu pada Travel and Tourism Competitive Index dari World Economic Forum (WEF) yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia untuk mengukur kesiapan daerah tujuan pariwisata menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
“Pengukuran IPI menggunakan basis data sekunder (data statistik) terkait pariwisata untuk menentukan skor indeks daya saing pariwisata di 505 Kabupaten/Kota dan data primer persepsi. Ini kedua kalinya Kemenpar bekerja sama dengan Harian Kompas melalui Litbang menyusun IPI,” jelas Frans.
Frans menambahkan, IPI sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat, pemerintah daerah dan stakeholder terkait untuk meningkatkan kualitas kepariwisataan daerah dalam pencapaian peningkatan target ranking 30 daya saing TTCI World Economic Forum pada tahun 2019.
“Indeks pariwisata sebagai bentuk evaluasi kinerja kepariwisataan daerah dan peran lintas sektor dalam mengembangkan sektor pariwisata di daerah,” tambah Frans.
Frans berharap sosialisasi ini memberikan gambaran terhadap pelaksanaan indeksasi pariwisata Indonesia yang akan dilaksanakan kembali pada 2018 mendatang, agar daerah kab/kota di Sumatera dapat mempersiapkan diri dengan baik.
“Sehingga, pada akhirnya pengembangan kepariwisataan Indonesia khususnya peningkatan daya saing pariwisata baik dalam maupun luar negeri dapat terus meningkat guna memberikan sumbangsih pada pembangunan ekonomi Indonesia,” pungkas Frans.
Kegiatan workshop sosialisasi Indeks Pariwisata Indonesia ini diikuti oleh Dinas Pariwisata dari Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Aceh, dan Kepulauan Bangka Belitung. Serta 60 Bappeda dari Kabupaten/Kota di Pulau Sumatera yang menggunakan basis/pendekatan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) dan KPPN (Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional)
Tahun 2016, untuk kali pertama, Kementerian di bawah komando Arief Yahya itu meluncurkan Indeks Pariwisata Indonesia (IPI) dari 505 Kabupaten/Kota se-Indonesia.
Pengukuran IPI berbasis data sekunder (data statistik) untuk menentukan skor indeks daya saing pariwisata di 505 kabupaten/kota. Empat aspek penopang pariwisata seperti aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, potensi wisata, dan infrastruktur, semuanya dinilai.
Keempat aspek inilah yang disusun sebagai basis konsep pengukuran IPI. Total, ada 78 indikator data yang dikelompokkan menjadi 14 pilar penilaian. Tiap pilar dikelompokkan lagi menjadi empat aspek pengukuran utama.
Hasilnya, tingkat daya saing tertinggi industri pariwisata Indonesia masih didominasi kota-kota besar. Kota Denpasar menduduki peringkat tertinggi dalam Indeks Pariwisata Indonesia dengan skor 3,81 dari rentang skala indeks 0 – 5. Aspek lingkungan pendukung bisnis, tata kelola, dan infrastruktur menjadi penopang utama keunggulan ibu kota Provinsi Bali itu.
Denpasar juga sukses menyambar posisi pertama untuk kategori Aspek Lingkungan Pendukung Bisnis dengan skor 3,71. Kesiapan infrastruktur, dukungan lingkungan bisnis, dan nama Bali yang sudah terkenal di dunia menjadi fondasi kokoh pengembangan pariwisata Denpasar.
Posisi sebagai pusat persebaran wisatawan juga menjadi berkah bagi Kota Denpasar. Lingkungan bisnis yang mapan, ketersediaan sumber daya manusia, serta kesiapan infrastruktur teknologi informasi (TI) menjadi pilar paling berperan membangun lingkungan pendukung pariwisata kota ini.
Selain Denpasar, Kota Surakarta juga Berjaya di kategori Aspek Tata Kelola. Untuk Apek Tata Kelola, Surakarta menyambar skor skor 3,99. Peringkat tertinggi menurut Aspek Potensi (jumlah) Wisata Alam dan Wisata Buatan adalah Kabupaten Sukabumi (skor 3,79), peringkat tertinggi menurut Aspek Infrastruktur Pendukung adalah Kota Makassar (skor 4,39).

Check Also

Mesin X- Ray Datang, Progress Silangit Capai 90 Persen

WAKTU.CO – Perkembangan peningkatan Bandara Silangit, Sumatera Utara untuk melayani rute internasional semakin menunjukkan progress …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by waktu.co